MENGEJAR SANG REMBULAN

Perempuan itu bernama Venus. Dia hidup bagaikan di dalam lorong waktu, di mana mimpi tak bernyawa dan harapan mati sebelum berbicara. Rasanya begitu hampa, menyesakkan, dan gelap.

Di bawah gemerlapnya bintang dan rembulan, Venus duduk sendirian. Tidak ada kunang-kunang yang menemani. Hanya bisik angin dan suara air yang menyentuh tepian, menjadi teman satu-satunya malam ini. Seperti kaset yang terputar, Venus teringat kejadian siang tadi.

“Kamu itu perempuan. Tidak usah mengkhayal ingin terbang ke Bulan” katanya—yang keluar dari mulut sesama Perempuan.

Saat itu Venus hanya terdiam membisu. Mulutnya sudah tidak sanggup lagi menjelaskan berbagai alasan. Ribuan kalimat tanya hanya bisa tertahan di ujung lidah.

Memang beginilah dunia yang kita tempati. Dunia yang kerap kali meniadakan keberadaan perempuan dan bahkan dipatahkan oleh sesama perempuan.

“Perempuan itu harus napak di tanah. Tidak ada ceritanya kalau perempuan itu di atas” ucapnya lagi—yang kali ini keluar dari mulut seorang laki-laki.

Tidakkah mereka sadar bahwa puluhan hingga ratusan ribu kali suara yang keluar dari mulutnya mampu meredupkan cahaya yang sedang Venus jaga. Sebenarnya, Venus tidak ingin menyerah, namun cahaya yang tertanam dalam jiwanya perlahan mulai redup dan kehabisan daya.

Ditengah sapuan angin yang menyentuh kulit tubuhnya, Venus termenung. Memandang pantulan bulan yang mengapung di atas air layaknya cermin.
Berfikir keras bagaimana caranya ia mengejar bulan yang tampak jauh untuk digapai.

Haruskah Venus menyerah sampai di sini saja? Atau Haruskah Venus kembali berlari tanpa memperdulikan suara riuh di belakangnya? Entahlah. Venus saat ini seperti berjalan di jalan berkabut.

Terlalu hanyut dalam menyelami kesunyian, Ia sampai tidak sadar bahwa sudah ada seorang manusia yang menemani di sampingnya. Manusia bercahaya ditengah kegelapan, seolah hadirannya akan membawa secerah harapan. Dia hanya diam dan menatap lurus kearah cermin Bulan.

“Maaf, kamu siapa?” tanya Venus akhirnya.

“Aku yang akan membawamu ke bulan” ujarnya seraya menatap kedua mata Venus yang berkilau.

Perempuan itu terdiam, terhanyut dalam tatapan yang begitu tajam, namun hangat.

“Bagaimana bisa kamu membawaku ke bulan?”

“Dengan menyerahkan kedua sayapku padamu.”

Venus menatapnya lekat. Tatapan manusia itu seperti cermin, memantulkan luka dan cahaya dalam waktu yang bersamaan. Seakan takut akan tertarik masuk kedalam dunianya, Venus menunduk menghindari tatapannya.

"Aku yang akan membawamu ke bulan"

Ucapannya tadi membuat detak jantung Venus seketika menghangat. Setelah terdiam cukup lama, Venus akhirnya memberanikan diri untuk kembali mengangkat kepalanya. 

Namun, detik itu juga ia tidak menemukan siapa pun. Sosok yang tadi bersamanya kini menghilang. Venus mengedarkan pandangan dan tidak menemukan jejak kepergiannya sedikit pun. Hanya ruang kosong, angin malam, serta pantulan bulan yang sedikit bergetar di permukaan air.

Sosok bercahaya itu seolah hadir di dalam alam bawah sadarnya. Venus menunduk perlahan. Dan saat itu, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Tapi kali ini bukan wajah muram yang tanpa harapan dan keberanian, melainkan wajah dengan sorot mata yang baru—tajam, berani, dan hangat.

Tangannya terangkat, menyentuh dadanya sendiri. Dada yang tadi terasa sesak, kini mulai berdenyut pelan, seperti bintang yang menyala kembali ditengah gulita. Venus tersenyum saat melihat kunang-kunang terbang dihadapannya.

Sosok tadi bukan manusia aneh, bukan orang lain, dan bukan suara dari luar. Tapi, suara dari dalam dirinya sendiri. Selama ini ia menunggu seseorang datang menyelamatkan. Padahal dialah satu-satunya penolong untuk diri sendiri.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Venus berdiri. Ia melangkah pelan, melewati batu-batu kecil dan meninggalkan pantulan bulan yang mengambang di air. Venus mulai berjalan menuju Bulan yang selama ini ia impikan.

Mimpi yang telah lama menunggunya untuk dikejar kembali. Bersama hembusan angin yang sejuk dan mengalir lembut seperti bisikan semesta yang mendukung langkahnya. Kini langkah Venus tidak lagi terasa berat.

Dengan kedua sayap yang diberikan olehnya, Venus tidak takut lagi. Suara-suara yang dulu meredupkan cahayanya kini mulai terdengar samar, seperti gema dari dunia lama yang sudah ia tinggalkan. 

Venus akhirnya sadar, bahwa dunia tidak akan berubah hanya karena ia diam, dan mimpi tidak akan bernyawa jika ia tidak berani untuk bangun.

Venus menghentikan langkah sejenak. Ia mendongak ke atas langit.
Rembulan masih menggantung di sana. Jauh. Tenang. Namun tidak lagi terasa mustahil.

Venus tersenyum kecil. “Bulan tidak pernah berubah. Tapi aku yang berubah” Ucapnya pelan.

Tangan kecil itu terangkat, seperti ingin meraih langit. Bukan dengan ketakutan lama, tapi dengan keberanian baru. 

Baik cahaya bulan, maupun cahaya yang tertanam dalam jiwanya, keduanya tidak akan pernah redup sampai kapanpun.

Komentar