Aku benci hari Minggu. Hari yang katanya sangat spesial dan paling di tunggu-tunggu kehadirannya. Bagiku, hari Minggu sangat biasa saja. Sama seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada yang spesial. Karena, hari Minggu ataupun bukan aku tetap bangun pagi untuk berangkat kerja. Tidak ada kata libur dalam kamus hidupku.
Seperti pagi ini. Aku mengendarai sepeda motor menuju tempat kerja. Jalanan sangat macet. Banyak pengendara motor maupun mobil yang sepertinya akan berlibur bersama keluarga ataupun kekasih. Tidak seperti aku. Dari pandangan yang aku lihat, wajah mereka tampak bahagia dengan senyuman lebarnya.
Yaa..... walaupun tidak semua senyum itu bahagia. Terkadang senyum hanya untuk menutupi sesuatu yang tidak seharusnya orang lain lihat.
Iya. sama sepertiku. Senyum hanya untuk menipu orang lain. Supaya mereka menganggap jika aku bahagia. Aku suka melakukannya. Aku suka di pandang menjadi manusia yang paling bahagia. Walaupun nyatanya tidak.
“Eh, Ra, lo baru sampai?? Udah ditungguin Pa Deni tuh di ruangan”
Dia Gita rekan kerjaku. Pa Deni adalah atasan kami. Aku tebak beliau pasti akan memarahiku karena telat satu menit. Iya, walaupun satu menit telat tetaplah telat, katanya. Pa Deni sangat disiplin orangnya. Bahkan, dulu Gita pernah telat sepuluh detik dan berujung mendapat tambahan jam kerja satu jam di hari itu.
Tapi kali ini aku tidak sama dengan Gita. Aku justru diminta untuk mencuci piring, menggantikan posisi Asep yang katanya hari ini izin libur ada keperluan keluarga. Entah urusan apa, Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu. Bukannya hal seperti itu sudah sering terjadi di dunai perizinan? Kan. Tidak peduli jika itu hanya sebuah kebohongan atau bisa jadi kebenaran.
Sepertinya, hari Minggu kali ini tidak hanya aku benci. Melainkan sangat sangat aku benci. Bagaimana tidak ? Selain mencuci piring, Aku juga harus melakukan tugas utamaku menjadi pengantar makanan sekaligus tukang lap meja. Tugasku akhirnya menjadi double. Ingin marah dan mengeluh namun pada siapa? Mungkin salahkan saja Asep yang tidak berangkat. Lebih baik di beri hukuman tambahan jam kerja daripada seperti ini. Kata 'Keteteran' merupakan situasi yang sedang aku alami sekarang.
“Aduh, Mba! Pelan-pelan dong naruh minumnya, jadi tumpah kan ke rok saya!”
Sial. Terlalu buru-buru aku jadi melakukan kesalahan. Rasa-rasanya aku ingin pulang saja sekarang. Kenapa hari ini sangat membuatnya emosional. Sudah terjebak macet, telat, di beri hukuman, dan sekarang kena marah pelanggan. Apa orang lain juga merasakan hal yang sama dengannya? Itulah yang terlintas seketika di kepalaku.
Pa Deni yang mendengar suara keributan saat itu juga keluar dari ruangan pribadinya. Beliau langsung melayangkan permintaan maaf dan memberikan uang kompensasi. Aku terdiam sambil menunduk. Menurutku manusia sangat aneh. Mereka seketika tidak marah lagi setelah di berikan uang. Padahal sejak tadi aku sudah berusaha meminta maaf dengan tulus, tapi tidak di dengarkan. Apakah semua manusia akan tunduk jika di berikan uang? Kalau begitu uang adalah raja. Tapi tidak. Tidak semua manusia seperti itu. Hanya sebagian dari jutaan manusia di belahan bumi.
“Zara, karena kejadian tadi kamu saya beri hukuman lagi, dapet tambahan jam kerja dua jam. Inget, lain kali harus hati-hati.”
Mampus. Lengkap sudah penderitaan yang aku alami di hari Minggu ini. Ingin sekali menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Tapi itu tidak bisa. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku cuma bisa tersenyum dan pasrah. Jika boleh egois, aku ingin menyalahkan Asep. Yah, Asep memang tidak sepenuhnya salah. Tapi aku ingin menyalahkannya.
Tak terasa waktu pun berlalu. Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Seharusnya aku pulang pukul delapan, dua jam lalu. Kalau di pikir-pikir manusia itu unik. Ketika merasakan hari yang berat, saat itu juga mereka mengeluh, ingin menangis. Tapi hebatnya bisa melalui masa sulit itu. Karena pada dasarnya mengeluh itu wajar, sebagai bentuk respon dari tubuh yang terluka.
Jalanan di malam hari terasa sepi. Tidak seramai tadi pagi. Hembusan angin malam yang terasa dingin seakan memelukku di tengah perasaan lelah sekaligus senang. Setelah seharian menghabiskan tenaga di tempat kerja, waktu pulang adalah sesuatu yang sangat di nantikan. Layaknya seseorang yang menemukan air minum di tengah gurun pasir tanpa tumbuhan.
“SELAMAT ULANG TAHUN, KAKAK”
Aku terkejut. Saat membuka pintu rumah di perlihatkan pemandangan penuh haru. Disana ibu, bapak, serta Reno, adiknya sedang berdiri menyambut kepulangannya. Ibu yang berdiri di tengah sambil memegang satu piring besar yang berisi nasi kuning. Sederhana, namun sangat membahagiakan.
Aku menangis. Bagaimana bisa mereka ingat hari ulang tahunku, sedangkan aku saja tidak ingat sama sekali. Apalagi dengan beratnya hari ini yang membuatku menjadi sangat emosional. Aku bersyukur masih memiliki mereka, rumah yang penuh cinta dan kasih sayang. Rasa lelah dan kesal yang hari ini aku rasakan seketika menguap, hilang.
“Ibu, Bapak, Adek, makasih banyak. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia, ya”
Iya. Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Aku tidak peduli seberat apapun masalah yang di hadapi. Asalkan aku masih punya rumah, tempat untuk pulang, aku akan baik-baik saja. Sekejam apapun dunia di luar sana, ketika aku pulang, rumah memberiku kenyamanan dan kebahagiaan. Tidak cuma rumah yang berbentuk bangunan, melainkan rumah dalam wujud manusia. Aku bersyukur mempunyai keduanya. Walaupun bangunan rumahnya terlihat sederhana namun ada kehangatan dan banyak cerita di dalamnya.
“Ayo, Nak, Kita makan nasi kuning sama sama”
Benar kata pepatah. Sejauh apapun kamu melangkah, jangan lupa untuk pulang.
Yah... Sekarang aku sudah pulang. Aku pulang ke dalam rumah yang begitu tepat. Walaupun besok aku akan pergi lagi, tujuan akhirnya akan tetap sama, yaitu aku akan pulang.
❤❤
BalasHapus